BantenOne.com |Tangerang Selatan – Ketua RW 007 Kelurahan Pamulang Timur, Muminto Arief, menggagas program ketahanan pangan berbasis budidaya lele menggunakan cara CBIB (cara budidaya ikan baik) sebagai upaya memastikan akses pangan bergizi, sehat, dan aman bagi masyarakat perkotaan. Program ini tidak hanya menyasar pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga peningkatan kualitas hidup warga serta solusi lingkungan berkelanjutan.
Menurut Muminto, pangan merupakan dasar kehidupan manusia. Karena itu, masyarakat perlu didorong agar memiliki akses langsung terhadap sumber pangan yang sehat dan bernutrisi. “Di dalam lele itu ada nutrisi, vitamin, omega, dan kandungan gizi lainnya. Harapan kami, program ini bisa meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat,” ujarnya pada Senin (12/1/2026).
Program budidaya lele tersebut dikembangkan melalui kolaborasi dengan praktisi perikanan dari Bogor dan dimentori langsung oleh Umar Hamzah, tokoh penyuluh perikanan yang telah puluhan tahun berkecimpung di bidang budidaya ikan. Muminto menegaskan, pihaknya sengaja meninggalkan praktik lama budidaya lele yang menggunakan pakan limbah kotor karena berpotensi menurunkan kualitas dan keamanan pangan.
“Kami menerapkan program dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yaitu Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB). Semua prosesnya mengacu pada standar pangan sehat dan aman,” jelasnya.
Salah satu inovasi yang diterapkan adalah sistem kolam super intensif yang memungkinkan air kolam tidak perlu diganti hingga tiga tahun dan dapat digunakan untuk panen hingga 15 kali. Teknologi ini tengah dikaji bersama sejumlah pihak, termasuk peneliti dari BRIN dan akademisi IPB, untuk memastikan aspek ilmiah dan keberlanjutannya.
Muminto berharap inovasi tersebut dapat direplikasi di wilayah lain. Ia bahkan menggagas rencana lanjutan berupa pengembangan rumah makan berbasis hasil budidaya warga serta integrasi dengan budidaya maggot sebagai solusi pengurangan sampah organik rumah tangga.
“Budidaya maggot ini memang kecil, tapi punya dampak besar. Selain mengurangi sampah, juga bisa jadi pakan ikan,” tambahnya. Program ini sekaligus menjadi ruang aktivitas produktif bagi warga RW 007 yang mayoritas merupakan pensiunan. “Sekitar 80 persen warga kami pensiunan. Program ini jadi ‘mainan’ yang bermanfaat agar tetap aktif dan produktif,” katanya.
Sementara itu, dari Pemerintah Kelurahan, Lurah Pamulang Timur, H. Ade Heri Sutiawan, menyambut positif inisiatif tersebut. Ia menilai program ketahanan pangan yang digagas RW 007 sangat relevan dengan kondisi perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan.“RW 007 baru empat bulan berjalan kepengurusannya, tapi sudah punya program luar biasa. Ini contoh bagaimana lahan sempit bisa menjadi produktif, bukan sekadar konsumtif,” ujar Ade.
Ia menyoroti tingginya kebutuhan lele di wilayah Pamulang Timur, yang memiliki lebih dari 60 pedagang pecel lele. Jika dikalkulasikan, kebutuhan lele bisa mencapai ratusan kilogram per hari. “Kalau program ini ditularkan ke 28 RW, dampaknya akan sangat besar bagi ketahanan pangan dan ekonomi lokal,” jelasnya.
Selain pangan, Ade juga menyinggung persoalan sampah di Kota Tangerang Selatan yang mencapai sekitar 1.000 ton per hari. Ia menilai budidaya maggot dapat menjadi salah satu solusi pengurangan sampah rumah tangga jika masyarakat mau mulai memilah sampah dari dapur.
Umar Hamzah salah satu mentor menjelaskan bahwa sistem kolam yang diterapkan di RW 007 merupakan hasil inovasinya selama lebih dari delapan tahun. Ia menyebutnya sebagai Super Intensif Urban Aquaculture, sistem usaha perikanan yang dirancang khusus untuk wilayah perkotaan dengan lahan terbatas.“Kolam ini berbeda. Biasanya panen ikan airnya dibuang, tapi di sini bisa panen sampai 15 kali tanpa ganti air selama tiga tahun,” katanya.
Umar mengaku sejak tahun 2000 hingga saat ini sudah 25 tahun dirinya membuat inovasi tersebut. Meski bagitu ia tidak mematenkan temuannya agar bisa dimanfaatkan masyarakat luas sebagai bagian dari ketahanan pangan keluarga. Ia juga menegaskan kesiapan timnya untuk mendampingi warga RW 007 ke depan, termasuk dalam pengembangan budidaya maggot yang telah ia tekuni selama tujuh tahun terakhir.
Dukungan juga datang dari Dinas Ketahanan Pangan Kota Tangerang Selatan yang diwakili oleh Ana Nurhasanah, penyuluh perikanan, menyampaikan bahwa kegiatan ini berpotensi dikembangkan menjadi kelompok budidaya ikan (Pokdakan) resmi.
“Kalau sudah terbentuk kelompok dan SK-nya keluar, kami bisa dampingi penuh, mulai dari pengelolaan kolam, pakan, sortir ikan, sampai perizinan seperti NIB,” ujarnya.
Ana menambahkan, meski jumlah penyuluh perikanan di Tangsel terbatas, pihaknya siap mendukung RW 007 agar program budidaya lele ini berkelanjutan dan bisa menjadi contoh bagi wilayah lain.
(RN)




