Banten One | Kabupaten Tangerang – Ritual Injak Bara atau Tahwee merupakan salah satu tradisi spiritual masyarakat Tionghoa Indonesia, khususnya komunitas Cina Benteng di Tangerang, yang masih terus dilestarikan hingga saat ini. Tradisi tersebut dilakukan dengan berjalan di atas hamparan bara api menyala menggunakan kaki telanjang sebagai simbol penyucian diri, penolak bala, serta permohonan keselamatan, kesehatan, dan keberuntungan.
Hal tersebut disampaikan oleh Jony Tan pada Senin (1/6/2026). Menurutnya, api dalam tradisi Tahwee dimaknai sebagai media pembersihan diri dari berbagai energi negatif, kesialan, maupun beban kehidupan yang dialami manusia.
“Ritual ini juga menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur dan kekuatan spiritual yang diyakini menjaga keseimbangan kehidupan manusia,” ujar Suhu Jony Tan.
Secara filosofis, Tahwee diibaratkan sebagai perjalanan melewati “jembatan api” yang melambangkan proses penyucian jiwa dan penebusan berbagai hal negatif yang pernah dilakukan seseorang. Dalam beberapa tradisi, ritual ini juga dikenal dengan istilah Cisuak yang memiliki kemiripan makna dengan tradisi ruwatan dalam budaya Jawa.
Selain sebagai sarana penyucian diri, Ritual Tahwee diyakini mampu membangun keberanian, keteguhan hati, serta memperkuat keyakinan spiritual dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Pelaksanaan ritual diawali dengan persiapan oleh tetua adat atau suhu yang menyiapkan berbagai perlengkapan ritual, termasuk penulisan rajah atau mantra pada lembaran kertas yang telah didoakan. Selanjutnya, arang kayu disusun dan dibakar hingga menjadi hamparan bara merah menyala.
Prosesi kemudian dipimpin oleh pemuka spiritual yang membacakan doa-doa dan mantra. Para peserta berjalan dengan tenang melewati bara api sebagai simbol pembersihan diri dan penyerahan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Masyarakat yang mengikuti ritual ini meyakini bahwa keberhasilan melintasi bara api tanpa rasa takut menjadi simbol kesiapan menghadapi berbagai cobaan hidup. Ritual tersebut juga dimaknai sebagai upaya membuang energi negatif dan memperkuat semangat menjalani kehidupan yang lebih baik.
Suhu Jony Tan, yang dikenal sebagai salah satu pelestari Ritual Tahwee dari Klenteng Ceng It Thian Kun Bio, menjelaskan bahwa ritual ini telah dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Tangerang, Serang, sejumlah wilayah di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Belitung, Makassar hingga Batam.
Menurutnya, pelaksanaan Tahwee tidak hanya dilakukan di klenteng, tetapi juga di berbagai padepokan dan majelis pengobatan tradisional yang masih menjaga nilai-nilai budaya leluhur.
Dalam praktiknya, Ritual Tahwee biasanya dilaksanakan pada kondisi tertentu yang dianggap memerlukan penyelarasan spiritual. Misalnya ketika masyarakat menghadapi berbagai tantangan sosial dan ekonomi, atau saat banyak warga mengalami persoalan kehidupan seperti masalah keluarga, kesehatan, maupun ekonomi.
Menariknya, ritual ini terbuka untuk semua kalangan tanpa memandang suku, agama, maupun latar belakang budaya. Nilai yang diutamakan adalah semangat gotong royong, welas asih, saling membantu, dan berbagi kasih kepada sesama manusia.
Sebagai bagian dari tradisi pembersihan diri, para pelaku adat juga mengenal tiga unsur utama, yaitu air, udara, dan api. Air digunakan melalui ritual penyucian di sumber mata air, sungai, atau laut. Udara diwujudkan melalui doa dan meditasi, sedangkan api diwujudkan melalui Ritual Injak Bara sebagai simbol transformasi dan penyucian.
Bagi para pelestarinya, Ritual Injak Bara Tahwee bukan sekadar tradisi spiritual, melainkan juga warisan budaya yang memiliki nilai kebersamaan, penghormatan terhadap leluhur, serta upaya menjaga kearifan lokal agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang di tengah perkembangan zaman.
Sumber: Keterangan Suhu Jony Tan dan pelaku pelestari Ritual Tahwee Benteng.




